Minggu, 11 Desember 2011

PP Hidayatush Sholihin




PONDOK PESANTREN HIDAYATUSH SHOLIHIN
BEJI – JENU - TUBAN
Pondok pesantren Hidayatush Sholihin, sebuah pesantren yang terletak di daerah pesisir, tepatnya di Desa Beji Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban Provinsi Jawa Timur, yang berdiri pada tahun 1988, atas prakarsa KH M Sholeh Nurhadi yang hingga kini menjabat sebagai pengasuh.
Awal berdiri pesantren ini mempunyai cerita yang unik, mulanya pesantren ini adalah mushola kecil yang setiap harinya banyak warga sekitar mengaji di kyai Sholeh, dan di suatu waktu  kyai akan mengantarkan 7 santrinya untuk nyantri di sebuah pesantren di kabupaten Tulung Agung, namun ketujuh santrinya itu tidak krasan di Tulung agung dan memilih tinggal di mushola kecil milik kyai Sholeh,  serta belajar mengaji disana, hal tersebut di ceritakan kyai kepada salah satu temannya yaitu kyai Muhtar, mendengar cerita tersebut, Kyai Muhtar berkata bahwa sudah waktunya kyai Sholeh mendirikan  pondok pesantren. Anjuran tersebut di fikirkan matang-matang oleh kyai Sholeh dan akhirnya kyai Sholeh menerima saran dari kyai Muhtar.
Sebelum pesantren ini mempunyai bangunan, ketujuh santri tadi di tempatkan di kamar depan milik kyai, dan kyai mengalah dengan menempati kamar belakang, proses perkembangan santri di pesantren ini di awal berdiri memakan waktu selama 7 tahun, barulah setelah kurun waktu tesebut banyak santri di daerah Tuban maupun di luar Tuban yang nyantri di pesantren ini.
Nama pesantren, di peroleh dari jalan mimpi kyai, ketika di rasa nama HIDAYATUSH SHOLIHIN, yang artinya petunjuknya orang-orang yang sholeh sudah pas di hati kyai, kyai memberi nama pesantren ini dengan nama tersebut. Dengan harapan para santri mendapatkan petunjuk dari Allah sehingga menjadi santri yang senantiasa beramal sholeh. Logo dari pesantren ini di buat oleh seorang santri yang bernama saifudin yang sekarang sudah menjadi alumni,.
Untuk metode belajar, di awal berdirinya kyai Sholeh hanya  menggunakan sistem klasikal dalam mengkaji kitab kuning, namun seiring berkembangnya waktu, kyai Sholeh menambahkan metode setoran kitab kuning yang mana santri membaca kitab kuning sendiri dan menerangkan isi kitab kuning di hadapan kyai, dan kyai hanya menyimak, metode ini di rasa sangat efektif karena dengan  metode setoran terlihatlah keaktifan santri dalam memahami kitab kuning, tidak hanya itu dengan sistem sorogan santri juga dapat mengaplikasikan teori nahwu shorof secara langsung.
Dalam hal pendidikan formal, pesantren ini tidak mempunyai lembaga pendidikan fomal, namun para santri di perbolehan untuk mengenyam bangku sekolah di sekolah sekitar pesantren.
 Pesantren Hidayatush Sholihin tidak hanya menyediakan fasilitas pendidikan agama islam untuk santri muqim saja, namun juga menyediakan pendidikan keagamaan untuk warga sekitar, terbukti dengan adanya madrasah diniyyah,dan  Taman pendidikan Alqur’an yang didirikan oleh menantu kyai Sholeh yaitu Alm. Wahib Munir pada tahun 1993, setiap sore hari setelah sholat ashar para santri TPA saling bersahutan membaca Alqur’an, selain itu kyai Sholeh bekerja sama dengan pengurus Nahdlatul ‘Ulama kecamatan Jenu juga mendirikan majlis Jum’at Legi, yang di ikuti  oleh warga sekitar pesantren, santri muqim, alumni dan wali santri, majlis jum’at legi ini diadakan rutin setiap satu bulan sekali tepatnya dihari Jum’at legi selepas Sholat Jum’at.
Harapan kyai Sholeh terhadap pondok pesantren Hidayatush Sholihin  adalah Pesantren yang telah di rintisnya ini  mampu lestari dan selalu menjaga dan mengembangkan kualitas dalam mengemban amanat yaitu memberikan pendidikan keagamaan, harapan kyai Sholeh kepada para santrinya adalah semoga para santrinya memiliki akhlak karimah dan ilmu yang bermanfaat, sehingga nantinya bila para santri kembali ke kampung halaman dapat menjadi insan kamil yang mampu menularkan ilmunya kepada masyarakat luas.
Satu kunci yang di pegang kyai dan selalu di nasihatkan kepada para santrinya adalah:
“ISTIQOMAH LEBIH BAIK DARIPADA SERIBU KAROMAH”













2 komentar: